Star Of Live
>> Minggu, 15 Maret 2009
“Kiri kanan ku lihat saja banyak pohon cemara….”
“Kok cemara ?”
“Stroberynya nggak ada”. Sahut yang lain. Semua tertawa dalam pelukan indahnya panorama sekitar.
Truk yang mengangkut sejumlah pemuda-pemudi ini terus melaju menantang tingginya pegunungan ini. Udara disini begitu sejuk, jauh berbeda dengan tempat tinggal mereka. Pegunungan menjulang tinggi, memagari hamparan luas sawah yang hijau layaknya permadani. Apalagi air yang mengalir sebening embun pagi. Ini memang bukan pertama kalinya rombongan itu kesini, tapi keterpukauan mereka tetap tak berkurang sedikitpun. Rombongan peserta LDKS MAN Sidoarjo akhirnya telah tiba di tempat tujuan.
“Ahhh… akhirnya kita sampe’ juga ya, cepeeeeekk BGT rasanya..”
“Ini tuh belum nyampe’, kita masih harus nanjak lagi ke atas sana” ucap Denis sambil menunjuk villa di pucuk gunung itu.
“Masih butuh perjuangan lagi donk mbak ?” sahut salah satu adik kelasnya.
“Ya iya lah masak ya thoiba ?”
Langkah demi langkah mereka lewati untuk mendaki puncak tersebut. Setelah pembagian kelompok, mereka berkumpul sesuai kelompoknya. Dan berisirahat sejenak sambil menunggu malam tiba.
“Mungkin malam ini ada yang pengen tampil buat mengekspresikan sesuatu ?” tanya Pak Chilmy.
“Luluh.. Luluh.. Luluh.. “ sahut mereka serempak
“Iya, ayo Luh..! Mau pake gitar ?”
“Iya Pak..”
Tak lama kemudian, petikan-petikan gitar telah dimainkannya. Alunan lagu indah pun mulai terdengar. Tatapan matanya tertuju pada Denis hingga getaran-getaran jiwa memenuhi setiap sudut ruangan.
Sungguh tak bisa ku mengganti dirimu dengan dirinya
Sungguh tak sanggup aku berpaling dari dirimu
Namun, ada keanehan dari semua itu.
“Dia kenapa ya ? kayaknya ada yang nggak beres nich. Mukanya kok keliatan pucat ? apa dia sakit ?” pikir Denis.
Plok..Plok..Plok.. Tepukan meriah mengakhiri semua pikirannya. Luluh berjalan ke arah belakang hingga akhirnya menghilang entah kemana.
“Nis, Luluh sakit ! Asmanya kambuh”. Ujar Rizka.
“Apa ? Ya Allah, Truz sekarang dia gimana ? Dimana ?”
“Dia udah ditangani sama guru-guru kok. kamu tenang aja ya, ntar aku kasih tahu kamu kabar selanjutnya. Okey ?”
Denis hanya bisa terdiam membisu. Hanya tetes demi tetes air mata yang dapat tercurah tuk kekasih pujaan hatinya.
“Ya Allah Ya Tuhanku.. Hamba mohon lindungilah Luluh. Beri dia kekuatan.. Amien”. Lantunan doa pun mengiringi tiap jeda waktunya.
Tak terasa malam semakin larut. Udara dingin kian menjalar di sekujur tubuhku.
“Sekarang udah waktunya kalian buat tidur. Buat yang cewek, kalian tidur di dalam tenda yang ada di luar sana. Trus buat yang cowok, kalian tidur di tikar yang udah disediain di luar itu. Mengerti ?” tukas salah satu kakak OSIS.
“Berarti kita pake atap langit dong tidurnya ? kan hawanya dingin banget kak” sahut Wahyu.
“Itu biar kalian tahu rasanya orang-orang susah di luar sana. Waktu terus berjalan. Kami harap kalian bisa gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Saya kasih waktu 5 menit buat persiapan kalian tidur. Cepat !”
“Mbak denis nggak apa-apa ta ?” tanya Iis.
Denis yang masih kacau itu pun hanya bisa mengangguk. Hanya Luluh yang ada dalam fikirannya sekarang. Hanya dia seorang.
Keesokan harinya, mentari bersinar cerah. Secerah hati Denis ketika melihat Luluh telah bergabung kembali dengan mereka semua. Seulas senyum pun menghiasi wajah kedua insan itu.
“Kalian pada laper nggak ?”
“Yaaa…”
“Sekarang kalian waktunya sarapan. Kayak biasanya, kelompok 1 ngambil makanannya dulu.”
Mereka pun mengambil jatah makan mereka bergantian. Setelah semua kelompok mengambil makanannya, mereka kembali ke tempat semula.
“Buat session makan, kalian udah tahu peraturannya kan ? kami kasih waktu 5 menit buat ngehabisin makanan kelompok kalian. Dan buat yang belum habis, kami bakal kasih sebungkus nasi lagi buat kelompok itu. Waktunya dimulai dari sekarang !”
Seperti biasa, kelompok Denis selalu nomor satu saat session makan. Itu berkat kekompakan semua anggota kelompok. Seiring berjalannya waktu, Denis semakin menikmati semua itu. Kelompoknya sudah seperti keluarga sendiri seperti tangan dan mata. Saat tangan terluka, mata pun menangis. Dan disaat mata menangis, tanganlah yang menghapus tetes air matanya.
Sarapan pagi pun telah usai, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi.
****
Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di puncak ini. Acara api unggun pun telah dimulai. Malam ini setiap kelompok diwajibkan untuk menampilkan kreasi mereka. Urutan penampilan pun dimulai dari kelompok satu.
“Duh mbak, kita mau nampilin apa ya ?” Tanya Iis.
“Hmmm…. Kita nyanyi-nyanyi aja deh… sambil ngitarin api unggun gitu” ucap Denis sambil mencari-cari sesuatu.
“Cari apa sih mbak ?”
“Cari Luluh… kok aku nggak keliatan dia ya ?” balas Denis.
“Mungkin masih di kamar mandi mbak. Ya udah lah, sekarang dah waktunya kita buat tampil nih”.
“Iya iya… Let’s go !”.
Seusai kelompok satu tampil, mereka kembali ke tempatnya semula. Tiba-tiba Mbak Laras, salah satu kakak OSIS, menghampiri Denis.
“Dek, bisa ikut mbak bentar nggak ?” tanyanya pada Denis.
“Oh bias mbak…” sahut Denis.
Setelah berjalan cukup jauh dari api unggun, mereka berhenti.
“Dek, Luluh pengen ketemu kamu. Tapi kamu harus janji ya. Jangan sampe kamu nangis di depan dia. Kasihan dia… kemarin malem, waktu dia kambuh, cuman satu pertanyaannya. Denis nggak apa-apa ta ? Dek, dia tu nggak pengen liat kamu sedih. Please jangan nangis di depan dia ya..”
“Asmanya kambuh lagi ? Astahfirullah…. Ya udah mbak, aku janji nggak bakal nangis di depan dia. Sekarang aku langsung ke tempat dia ya ?” ucap Denis sambil mengambil nafas panjang mencoba untuk tegar. Ia pun melangkahkan kakinya dengan degup kencang jantungnya. Dibukanya pintu kamar itu. Dan pemandangan yang paling tidak Denis inginkan terpampang di depan mata.
“Ya Allah, kuatkan aku” batinnya.
Miris hati Denis ketika melihat Luluh kesakitan. Bahkan hanya untuk bernafas pun begitu sulit baginya. Tatapan mata itu, tatapan mata dari seseorang yang sangat dicintai Denis.
“Aku sayang kamu Luh..” ucap Denis kemudian.
Tiba-tiba butiran air mata jatuh dari pelupuk mata Luluh.
“Ya Allah, aku bener-bener nggak kuat ngelihat semua ini. Tapi aku nggak boleh nangis, nggak boleh.. demi Luluh, aku nggak boleh nangis !” jerit Denis dalam hati. Hanya seulas senyum yang dapat diberikannya untuk Luluh sekarang. Semoga itu bisa jadi sedikit semangat untuknya.
“Dek Luh, Denis udah boleh kembali nggak ? kamu kan udah liat dia kan ?” tanya Mbak Laras. Luluh hanya bisa mengangguk lemas. Denis hanya bisa terdiam, terdiam dalam sejuta harap. Denis dan Mbak Laras segera keluar dari kamar itu.
Tangisnya meledak seketika. Dipeluknya Mbak Laras yang ada di sampingnya.
“Mbak, aku nggak kuat ngeliat dia kesakitan kayak gitu. Sakiiit banget rasanya ngeliat semua itu mbak. Sakiiit banget. Aku pengen tuker posisi aja sama dia. Biarin aku aja yang sakit. Jangan dia mbak.. Aku sayang banget sama dia lebih dari apapun. Aku sayang banget sama dia…” ucap Denis dalam balutan sejuta air mata.
“Aku tahu dek. Aku tahu kamu sayang banget sama dia. Tapi kalo kamu nangis terus kayak gini. Dia malah bakal ngerasa lebih sakit lagi. Kamu percaya sama mbak kan ? dia nggak akan kenapa-kenapa. Percaya itu. Luluh itu kuat. Apalagi dia pengen ngeliat kamu senyum terus. Pasti dia bakal usaha buat ngalahin penyakitnya itu”
“Kenapa harus Luluh yang dapat semua ini ? kenapa harus dia ? kenapa nggak aku aja ?” pertanyaan itu selalu hadir saat Denis melihat begitu besar perjuangan kekasihnya, perjuangan untuk selalu mengukir sebuah senyum pada wajah ini.
****
Keesokan harinya, rombongan LDKS MAN Sidoarjo bersiap-siap untuk pulang. Dengan mata lebam, Denis membereskan semua barang-barangnya. Tak lama kemudian Luluh datang menghampirinya.
“Maafin aku ya udah bikin kamu khawatir. Aku nggak pernah punya maksud buat kayak gitu” ucapnya kemudian.
“Nggak apa-apa kok Luh… Siapa sih yang pengen sakit ? Nggak ada kan ? Kamu udah baikan ?” Tanya Denis.
“Udah kok. Thanks buat doanya”.
“Doa ? Darimana kamu tahu aku berdoa apa nggak ?”.
“Anak-anak udah cerita. Katanya semaleman kamu nangis terus buat aku. Kamu pasti nggak tahu kalau waktu kamu tidur, kamu manggil-manggil namaku”.
“Oh… gitu ya. Jadi malu nih..”.
“Ngapain mesti malu ? Itu kan ngebuktiin besarnya sayang kamu ke aku” ucap Luluh.
Semenjak saat itu, hubungan Denis dan Luluh semakin erat sebab mereka telah menemukan warna-warni cinta mereka berdua. Gemerlap cinta mereka bagaikan Star Of Live.
